Showing posts with label Komunikasi Bersifat Non sekuensial. Show all posts
Showing posts with label Komunikasi Bersifat Non sekuensial. Show all posts

Monday, June 6, 2016

Komunikasi Bersifat Non sekuensial

PRINSIP 9


Meskipun terdapat banyak model komunikasi linier satu arah, sebenarnya komunikasi manusia dalam bentuk dasarnya (komunikasi tatap muka) bersifat dua arah. Ketika seseorang berbicara kepada seseorang lainnya, atau kepada sekelompok orang seperti dalam rapat atau kuliah, sebetulnya komunikasi itu berjalan dua arah, karena orang-orang yang kita anggap sebagai pendengar atau penerima pesan sebenarnya juga menjadi “ pembicara” atau pemberi pesan kepada saat yang sama, yaitu lewat perilaku nonverbeal mereka. Ketika seorang manajer berbicara kepada para pegawainya dalam suatu rapat, maka pada detik ketika manajer itu berbicara, sebenarnya para pegawai itu menyampaikan pesan, misalnya dalam bentuk  anggukan kepala sebagai tanda mengerti atau setuju, ekspresi wajah yang serius sebagai tanda kesungguhan mendengarkan pembicara, kening berkerut sebagai tanda ketidakmengertian, tatapan mata atau senyuman ( seorang wanita) sebagai tanda ketertarikan atau menggoda, menguap sebagai tanda bosan atau mengantuk, atau  menggigit jari sebagai tanda gelisah.

Beberapa pakar komunikasi mengakui sifat sirkuler atau dau arah komunikasi ini, misalnya Frank Dance, Kincaid dan Schramm yang mereka sebut komunikasi antarmanusia yang memusat, dan Tubbs yang menggunakan komunikator 1 dan komunikator 2 untuk kedua pihak yang berkomunikasi tersebut. Komunikasi sirkuler ditandai dengan beberapa hal berikut.

1.      Orang-orang yang berkomunikasi dianggap setara, misalnya komunikator A dan komunikator B, bukan pengirim (sender) dan penerima (receiver), sumber (source) dan sasaran (destination), atau yang sejenisnya. Dengan kata lain merek mengirim dan menerima pesan pada saat yang sama.
2.      Proses komunikasi berjalan timbal balik (dua-arah), karena itu modelnya pun tidak lagi ditandai dengan suatu garis lurus bersifat linier (satu-arah).
3.      Dalam praktiknya, kita tidak lagi membedakan pesan dengan umpan balik, karena pesan komunikator A sekaligus umpan balik bagi komunikator B, dan sebaliknya  umpan balik B sekaligus merupakan pesan B, begitu seterusnya.
4.      Komunikasi yang terjadi sebenarnya jauh begitu rumit, misalnya komunikasi antara dua orang juga sebenarnya secara simultan melibatkan komunikasi dengan diri sendiri (berpikir) sebagai mekanisme untuk menanggapi pihak lainnya. Seperti dikatakan Samovar dan Porter, sapaan “Halo” kepada seorang kawan saja melibatkan komponen-komponen yang beroperasi hampir pada saat yang sama, mulai dari proses kimiawi dalam otak kita hingga gerakan bibir kita untuk mengeluarkan bunyi. Penyaringan beberapa variabel tertentu otomatis mengabaikan variabel-variabel lainnya yang tidak terhitung banyaknya. Bahasa manusia tidak memadai untuk menguraikan kerumitan fenomena itu. Karena itu kita menyandarkan diri pada definisi, konsep, model atau sekedar teori yang artifisial untuk menggambarkan proses tersebut.


Meskipun sifat sirkuler digunakan untuk  menandai proses komunikasi, unsur-unsur proses komunikasi sebenarnya tidak ter pola secara kaku. Pada dasarnya, unsur-unsur tersebut tidak berada dalam suatu tatanan yang bersifat linier, sirkuler, helikal atau tatanan lainnya. Unsur-unsur proses komunikasi boleh jadi beroperasi dalam suatu tatanan tadi, tetapi mungkin pula, setidaknya sebagian, dalam suatu tatanan yang acak. Oleh karena itu, sifat non sekuensial alih-alih sirkulertampaknya lebih tepat digunakan untuk menandai proses komunikasi.

Popular Posts